Tentang Mencintai Alam (2)

Mendaki Gunung

5cm

Bukan review/resensi film 5cm

Melanjutkan post ini, masih berkaitan dengan kegiatan yang katanya mencintai alam.

Mendaki Gunung hampir selalu diikuti dengan kegiatan berkemah. Seumur-umur tidak pernah terpikir saya akan mendaki gunung. Membayangkan saja wegah. Akhir-akhir ini sebagai landscaper anyaran, saya juga mendaki gunung tapi pakai sepeda motor ­čśÇ

Ndak dinyana ndak diduga, istri tercinta saya ini ternyata dulunya adalah aktifis pendaki gunung dan malah lama menjabat Sekjen di organisasi Mapala di kampusnya. Sangat berbanding terbalik dengan suaminya yang tampan ini.

Suatu saat di group Facebook alumni Mapala yang diikutinya itu mengupload foto-foto kenangan jaman dahulu waktu mendaki gunung, otomatis dia cerita-cerita dengan semangat tinggi mengisahkan serunya  jaman mendaki gunung bareng-bareng teman-temannya dahulu. Komplit, mulai serunya saat-saat persiapan, teman-temannya yang keluar sifat aslinya yang aneh-aneh dan kadang menjengkelkan pada waktu menghadapi beratnya medan pendakian. Kejadian tersesat atau hampir ngglundhung ke jurang, sudah biasa dialami.

Bukannya mendapatkan apresiasi yang setimpal dari suaminya yang tampan ini, ternyata malah mendapatkan nyinyiran. Bayangkan saja, sebenarnya apa sih yang dicari dari kegiatan mendaki gunung?

Kegiatan mendaki gunung pasti membutuhkan persiapan fisik yang berat, kemudian perbekalan yang cukup, perbekalan yang makan biaya yang tidak sedikit kalau tidak pengin mati konyol karena kelaparan.

Belum lagi transportasinya ke tempat awal pendakian juga butuh biaya. Kemudian proses pendakian. Harus berlelah lelah dengan medan yang pasti berat dan menembus pekatnya hutan liar. Ketika waktunya tidak cukup, berkemah. (halah kemah maneh).

Lalu apa yang akan dilakukan sesampainya di puncak, foto-foto narsis, selfie, menikmati sunrise/sunset? Untuk kemudian sebagai bahan upload di media social, memancing kekaguman dan keheranan teman-teman. Selesai kegiatan itu saya jamin, yang kemudian dilakukan adalah turun gunung, hanya itu. Emangnya  mau membuat padepokan dan beranak pinak di puncak situ macam Arya Kamandanu? Saya yakin tidak.

Mendapati nyinyiran saya, saya yakin, istri saya dalam hatinya benar-benar pengin koprol tujuh kali.

Selamat mendaki

gambar : http://www.sorayafilms.com

This entry was posted in ANGEN2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *