Sedekah, Ikhlas dan Fotografi

Memasuki bulan November tahun 2015, tidak seperti biasanya di kantor saya, instansi pengumpul pajak negeri ini, jauh-jauh hari sudah mewarning pegawainya untuk tidak mengambil cuti di bulan November dan Desember. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya cuti hanya tidak diperbolehkan di bulan Desember saja. Karena saya memiliki agenda yang sangat penting, mau nggak mau saya harus ngadep ke pak kepala supaya memberikan kebijakannya. Dari 5 hari cuti yang saya ajukan, oleh pak kepala hanya disetujui tiga.  Menurut saya sudah cukup. Yang penting saya bisa cuti mengawal hari bersejarah di keluarga kami.

14 November 2015, siang yang terasa pengap dengan mendung tebal tetapi disertai panas yang menyengat. Musim kemarau hampir berlalu dengan ditandai sesekali hujan yang mulai turun . AC pendingin ruangan di RSI Siti Aisyiah Kota Madiun tidak mampu menghilangkan titik-titik air keringat yang mulai membasahi punggung saya yang dibebani tas backpack besar. Kaki saya tersaruk-saruk dengan 2 tas besar di tangan, mengikuti langkah cepat dua orang perawat yang mendorong ranjang pasien yang ditempati istri saya ke ruang operasi. Ketegangan, kecemasan mulai menelusup di hati saya.

Perjalanan panjang ini dimulai dari beberapa tahun yang lalu. Saya dan istri merasa bahwa, sudah waktunya memberikan teman pada jejaka kecil kami. Semenjak umur dia 4 tahun kami petualangan itu dimulai. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Manusia boleh berencana, tetapi tetap Allah SWT yang menentukan segalanya. Begitulah bila seorang manusia berani-beraninya bersikap jumawa terhadap kehendak Allah Swt, hal seperti ini tidak bisa diatur oleh manusia. Tidak semudah itu.

Mengingat usaha sendiri belum menampakkan hasil, kami pun mendatangi dokter SpOG untuk menjalani program kehamilan. Berbagai jurus telah diterapkan oleh sang dokter, kami pun menuruti apapun perintah yang diberikan. Tetapi sampai pada satu titik, sang dokter memberikan pernyataan bahwa sangat kecil bahkan bisa dibilang tidak ada kemungkinan kami akan memiliki anak lagi karena ada saluran yang tertutup di perabotan dalam istri saya. Akibat bakteri/virus ataupun malpraktek  pada saat proses persalinan yang pertama. Sehingga betapapun suburnya pasangan, ada proses yang tidak bisa dilakukan.

Bu Dokter memberikan jalan keluar, yaitu ikut program bayi tabung yang hanya bisa dilakukan di Surabaya atau dilakukan operasi untuk membuka saluran yang tertutup . Saya berpikir dua-duanya sangat tidak mungkin. Program bayi tabung memakan biaya sangat besar dengan kemungkinan berhasil amat kecil. Operasi, wah sangat tidak sebanding dengan resiko dan hasilnya juga tidak pasti. Akhirnya memang kami harus ikhlas dan memasrahkan diri . Mungkin Allah memiliki rencana lain, kami dipercaya untuk merawat dan membesarkan jejaka kecil kami itu saja.

Program kehamilan kami lepaskan, kami menghadapi hidup dengan ringan dan tanpa beban. Meskipun kadang-kadang harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan getir seperti misalnya :

” Mas nya sudah besar kok belum diberi adik”,

“Itu Mas nya kalo ada adiknya pasti lebih dewasa” Melihat betapa bertingkahnya jejaka kecil kami itu.

Kami sekeluarga memiliki hobi traveling, contohnya tanpa rencana, hari Sabtu Minggu tiba-tiba kami sudah menyusuri padatnya jalanan Solo-Jogya. Pernah juga nekat merasakan serunya bertiga ke Bandung pulang pergi dengan mobil untuk menghadiri acara sisetannya ini. Tiba-tiba saja sudah nongkrong di depan pintu gerbang museum kereta api di Kota Ambarawa yang dalam keadaan tutup karena sedang direnovasi, maklum dadakan jadi nggak cari referensi dulu. Pernah, kami tanpa arah tujuan berkeliling kota Cepu, hanya berkeliling kemudian balik ke Madiun. Hobi-hobi itu makin sering dilakukan.

Hingga suatu saat saya sedang di ruang tunggu sebuah bengkel karena melakukan service rutin kendaraan saya. Biasanya untuk membunuh waktu saya habiskan dengan menelusuri HP atau membaca di tablet, kurang peduli dengan sekitar. Entah bagaimana ceritanya, saya bisa ngobrol enjoy dengan seorang bapak yang sudah agak sepuh. Obrolan berlangsung enjoy hingga akhirnya sampai pada curhat saya tentang belum diberikannya momongan lagi.Ternyata bapak tersebut memberikan tips buat saya.

“Mas, sampeyan melakukan sedekah atau zakat harta to?”

“Insya Allah, Pak” Ujar saya.

“Coba saja, pada saat sampeyan memberikan sedekah/zakat, sampeyan sekalian minta kepada penerima sedekah itu agar didoakan untuk diberikan momongan lagi. Karena doa-doa dari orang yang kurang mampu biasanya mustajab”

Degg, saya mbatin apa memang boleh seperti itu. Bukankan namanya sedekah/zakat itu harus ikhlas tanpa embel-embel apapun? ilmu saya memang kurang.

Entahlah, toh pada saat Bulan Ramadhan tahun 2014 kemarin, tips dari kenalan baru saya itu, kami laksanakan, seperti pesannya. Meskipun kami sudah pasrah dan ikhlas, toh setiap selesai sholat, doa-doa ini termasuk yang kami panjatkan.

Kemudian saya tertarik dengan dunia belajar fotografi, terutama landscape yang mengharuskan saya mblasak mencari spot spot keren untuk difoto, termasuk tempat ini. Medan yang berat dan extrim tidak pernah terlewati. Mblasak kemanapun saya selalu ditemani oleh istri saya.

Biasanya betapapun beratnya jalan, dia ini oke-oke saja tetapi lain hal selepas mengambil foto ini,

prigi
sunrise teluk prigi

dia tepar dan langsung tidur sampai siang. Kami memang berangkat setelah shubuh dengan sedikit ngebut karena mengejar matahari terbit. Jalan yang naik turun dan berlubang tidak peduli, dihajar oleh ban Honda Supra X milik ibu saya.

Kira-kira 3 minggu setelah peristiwa traveling extrim itu, tiba-tiba istri saya menelepon nyuruh saya nyempatin pulang dari kantor sejenak. Sesampainya di rumah, dia langsung cerita dengan ragu-ragu dan sedikit tergagap.

“Jam tiga pagi, tiba-tiba aku kayak ada yang nyuruh untuk pipis dan nge-test pake test pack”
Degg…
“Njuk hasile piye” Saya juga jadi dag dig dug
“Iki deloken dhewe” Ternyata dia masih menyimpan test pack jaman masih bergelut dengan program kehamilan itu.

Dia menyerahkan test pack, ada dua garis tapi samar-samar. Kami antara ragu, tidak yakin dan cemas, takut kalau harapan ini hanya tinggal harapan. Bahkan, teman karibnya pun diundang disuruh datang buat memastikan.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali mengunjungi dokter SpOG kami dulu. Agak kaget dokter itu melihat kami,  mengingat pada waktu itu kami sudah memberikan pernyataan berhenti. Alhamdulillah ya Allah, ternyata memang ada makhkluk mungil di rahim istri saya. Bu Dokter sampai dengan nada tinggi menginterogasi kami tentang upaya apa saja yang kami lakukan sehingga berhasil memperoleh apa yang diinginkan? Kami hanya menjawab simpel.

“Kami hanya berusaha ikhlas Bu Dokter”

Apabila dihitung dengan mblasak kami ini, berarti istri saya sudah dalam keadaan hamil, betapa bersyukurnya dan menyesalnya sudah mengajaknya demi ambisi memuaskan hasrat belajar fotografi , padahal kami menempuh jalan yang luar biasa berat. Bila tahu lebih awal, tak jamin istri saya yang hamil muda bakal saya jauhkan dari kegiatan-kegiatan ini. Sekali lagi berkat kebesaran-Nya. Tetapi, siapa tahu ternyata bila si bayi sudah sejak dalam kandungan hobi travelling atau fotografi, atau bahkan naik gunung seperti ibunya ini.

Berbagi pengalaman ini, bagi yang menginginkan tips kehamilan dan cepat hamil, betatapun rumitnya upaya program kehamilan, betapapun suburnya pasangan, bila Allah belum memberikan, niscaya hanya sia-sia. Tips kehamilannya, sedekah, ikhlas pasrah dan berserah diri.

Dengan ditunggui penuh oleh ayahnya, maksudnya ayahnya yang moncat mancit sendirian kesana kemari ngurus segala macam keperluan bersalin, akhirnya 14 November telah lahir bayi cantik mungil dengan tangisan yang sangat keras dengan rambut hitam tebal. Awalnya akan saya beri nama yang ada unsur-unsur fotografi tetapi ibunya lebih memilih nama pemberian Mbah Kungnya.

Om tante pakde bude, panggil dia “Karin”

This entry was posted in NDONGENG. Bookmark the permalink.

4 Responses to Sedekah, Ikhlas dan Fotografi

  1. galihsatria says:

    Jangan-jangan bapak sepuh itu sebenarnya adalah malaikat yang sedang menyamar yang sedang memberi petunjuk. :mrgreen:

  2. BPG says:

    Ada ulama yang berpendapat boleh punya lebih dari 1 niat di luar lillah, seperti niat nikah saja ada 100-an lebih. Ada yang berpendapat niat harus lillah, doanya saja yang disesuaikan dengan keinginan kita atau wasilah. Ada yang tidak membolehkan sama sekali. Al-Quran dan hadits pun menegaskan perlunya untuk berniat lillah. Semua boleh kita ikuti. Namun saran saya, kalau kita awam sebaiknya niatnya lillah saja, entah kita mendapatkan sesuai dengan keinginan kita ya terserah Allah saja karena Dia yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun selamat telah hadir buah hati baru … barakallah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *