Kisah Pencarian : Jodoh Harus Dijemput

Usia 35 Tahun merupakan usia dalam katagori lampu merah bagi seorang wanita dalam hal mencari jodoh. Belum menikah dalam usia ini, menjadikan kegelisahan yang amat sangat. Disaat yang sama banyak teman-temannya yang telah memiliki keluarga dengan anak usia sekolah.

Pertanyaan, pergunjingan merupakan hal sudah menjadi makanan sehari-hari. Berbagai upaya baik upaya sendiri maupun dibantu pihak lain misalnya keluarga maupun teman dalam mencarikan jodoh, berakhir dengan kesia-siaan apapun alasannya. Hanya menambah kegalaun di malam-malam sepi.

Seperti yang dirasakan sebut saja namanya  Mbak Mie, mau saya namai Bunga, nanti panjenengan pikirannya bermacam-macam. Mbak Mie, pemegang ijazah Sarjana, bekerja sebagai guru honorer di sekolah Madrasah Tsanawiyah, sebuah kecamatan di pelosok selatan Jawa Timur, yang bisa disebut dengan Kabupaten Tulungagung.

Memiliki kegelisahan tentang macetnya jalinan perjodohan, hingga tidak terasa usianya sudah memasuki angka ke tiga puluh lima, kegelisahan kecemasan dan perasaan kegagalan dalam memenuhi harapan orang tua untuk memberikan seorang cucu, semakin merambati lubuk sanubarinya.

Berbagai upaya telah dilakukan, bagaimanapun Mbak Mie tetap memiliki keterbatasan kodrat sebagai seorang seorang wanita, dimana dalam hal perjodohan sebagai pihak wanita merupakan menunggu. Ibarat taktik sepakbola, Mbak Mie harus melakukan strategi cattenacio, menunggu di garis belakang bukan dengan offensif football. Bila melakukan taktik offensif football bisa disebut istilah jawanya “bocah wadon kok ngethek wae” atau agresif, merendahkan kodrat sebagai wanita. Meskipun fenomena keagresifan ini sebenarnya semakin marak dan biasa dalam masa sekarang ini.

Wanita dalam usia matang seperti ini, menghadapi kendala makin menipisnya stok pemuda-pemuda mapan nan gagah perkasa yang belum menikah, mereka akan menikah di usia yang lebih muda. Stok Pemuda-pemuda di usia sebaya mbak Mie atau diatasnya tinggal perjaka lontang lantung bedebah yang hidupnya hanya mengharap belas kasihan simboknya alias pengangguran nggak jelas dan mengharap pembagian harta warisan ataupun duda yang ditinggal kawin lagi istrinya yang menjadi TKW di tanah seberang.

Menghadapi kondisi yang demikian, apakah Mbak Mie menyerah? Ternyata tidak. Otaknya berpikir keras, Jodoh yang tidak kunjung datang, satu-satunya upaya, Jodoh harus dijemput, harus dicari. Bagaimana caranya, cara berikut ini mungkin bisa menjadi tips dan trik terbaru serta termodern dalam mencari jodoh. Saya tuliskan spesial untuk panjenengan (halah).

Pertama, yang dilakukan Mbak Mie adalah memanfaatkan teknologi internet. Sebagai seorang guru honorer, Mbak Mie tergabung dalam paguyuban guru honorer. Sehingga proses pencarian dimulai dengan menelusuri database nama-nama guru honorer dengan tempat tertentu yang banyak informasinya di internet. Database tersebut sudah mencakup biodata nama, alamat beserta foto yang bersangkutan. Setelah menelusuri sekian lama, tibalah pada seraut wajah beserta biodata yang menimbulkan getar-getar halus dilubuk sanubarinya.

Gambaran dan biodata pria idaman sudah ditangan, yang dilakukan berikutnya adalah bertindak. Hanya berdiam diri, tidak mungkin sang pria idaman akan otomatis datang karena Mbak Mie tidak saling kenal sang pria idaman ini serta haqul yakin juga tidak memiliki ilmu telepati. Mbak Mie harus mengatur strategi yang sangat hati-hati karena apabila salah langkah, stigma atau cap agresif yang saya sebutkan diatas bisa menghancurkan keinginannya untuk mendapatkan sang pria idaman.

Mbak Mie mendatangi alamat sang pria idaman tersebut. Apakah Mbak Mie langsung menemui sang pria idaman? Tidak, Mbak Mie justru menemui ibu sang pria idaman. Disinilah perlunya dan bergunanya sebuah kejujuran. Mbak Mie dengan sejujur-jujurnya mengungkapkan bahwa kedatangannya adalah mencari jodoh, dan jodoh yang dimaksud adalah putra dari ibu tersebut. Bagaimana tanggapan ibu sang pria idaman tersebut?

Sugeng midangetaken carios candakipun, Nuwun…

(seperti diceritakan Mbak Mie kepada istri saya)

ilutrasi dari :http://donaturilmu.blogspot.co.id/

This entry was posted in NDONGENG. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kisah Pencarian : Jodoh Harus Dijemput

  1. galihsatria says:

    Kupikir postingan ini adalah paid review dari setipe.com ternyata Mbak Mie memakai teknologi yang berbeda kwkwkw…

    *ditunggu cerbung selanjutnya*

  2. Pingback: Kisah Pencarian : Jodoh Harus Dijemput (2) » denbei.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *