Wajah-Wajah (Bandara)

Penantian tak Bertepi

Apabila sering bepergian, dimanapun berada, bisa di bandara, terminal ataupun stasiun. Banyak wajah-wajah tercipta karena di tempat tempat tersebutlah bisa ditemui perpisahan sekaligus pertemuan

Bandara Juanda, 19.00 WIB sedang menunggu JT 704 yang memang hobby delay, duduk sejenak sambil membelai sepatu yang berdebu. Duduk di ujung dekat musholla di gate 4, musholla kecil yang ter engah engah menerima limpahan jamaah sholat magrib dan isya, menatap kosong wajah-wajah dengan penuh ketergesaan.

Beberapa kali muncul pengumuman dari petugas agar tidak meletakkan tas di tempat duduk atau tiduran, agar penumpang lainnya mendapatkan bagian tempat duduk itu. Tetapi sebagian besar sepertinya tidak peduli, toh menunggu sambil meleseh pun tidak menjadi soal.

Wajah yang menatap sayang yang terkasih seakan – akan tiada lagi pertemuan setelah perpisahan ini. Terbayang dengan indah apa yang telah dilalui sepanjang waktu sebelumnya, ┬átatapan yang berat untuk segera berpisah dengan pertayaan , kapan akan bersua kembali. Diakhiri dengan sebuah pelukan erat, maka selesai pertemuan hari ini.

Wajah-wajah kesal mengeras begitu mendapat pengumuman penundaan jadwal keberangkatan, entah sudah berapa lama penundaan ini terjadi. Berbanding lurus dengan wajah-wajah lelah para petugas, yang entah berapa kali memberi harapan dan berkali pula memberikan penjelasan.

Wajah menerawang, seperti yang saya lakukan disudut lorong gate ini. Entah kapan panggilan boarding itu akan kembali, layar gawaipun yang biasanya begitu menghibur hanya tinggal seoonggok benda kotak tak berarti. Hanya pikiran akan keberangkatan dan harapan agar penantian ini tidak berlangsung lebih lama. Harap-harap cemas bila petugas menyampaikan pengumuman, apakah penantian ini segera berakhir ataukah makin bertambah panjang.

Wajah-wajah nerawang yang berubah menjadi wajah menunggu, Meski sudah jelas diberitahukan petugas tetapi seakan akan kepercayaan itu beranjak sirna. Board Schedule pun lebih dipercaya dengan beberapa kali keberadaanyya dikunjungi untuk meyakinkan diri, mencocokkan dengan boarding pass yang dipegangnya. Satu pertanyaan berkali-kali singgah di hati, apakah benar pesawat ini benar-benar belum meninggalkan diri ini.

Wajah tergesa, wajah cemas berlari-lari, mengejar berderap menerobos antrian yang telah terjajar rapi. Tapi apakah wajah itu peduli. Hanya satu yang diinginkannya, masih mendapati pramugari di ujung garbarata yang bagaikan tak bertepi.

Wajah-wajah sabar dalam antrian. Toh mengumpat diri pun tidak akan mengubah posisi antri, hanya gawai dan sesekali tatapan kosong menyapu sudut-sudut bandara. Menyapu wajah penjaga toko yang seakan menatap kerumunan-kerumanan, sesekali meski tanpa terucap pun berkata, kapan khalayak sekalian berkunjung barang sejenak.

Wajah ceria dan kegembiraan pun muncul, ketika akhirnya panggilan yang dinanti-nanti pun tiba, penantian yang bagaikan tak berujungpun telah berakhir. Hela nafas kelegaan, kegembiraan serempak bersautan. Tidak peduli berapa lama waktu penundaan yang dialami, hanya inilah hiburan yang sejati. Entah apa yang terjadi dengan esok hari, tiada satupun yang peduli.

 

06-08-17, Gate 3-4 Bandara Juanda, selepas Isya

This entry was posted in TRAVELING. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *