Kepingan dan Jejak Perjalanan

Jejak perjalanan bisa bermacam-macam mulai dari bentuk karya fotografi, tulisan bahkan hanya kenangan. Sebagai penglaju PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad, secara nggak sengaja saya meninggalkan jejak-jejak perjalan yang nggak sengaja juga terdokumentasi. Nggak mungkin kan tiap perjalanan akan selalu saya foto, karena perjalanan yang saya lakukan rutenya ya itu-itu saja. Tetapi apabila saya dokumentasi hanya dalam hati, hanya akan menjadi kenangan yang semakin lama semakin terlupakan.

Pengingat perjalanan ini   antara lain bisa berupa boarding pass, tiket kereta, tiket bus patas harapan jaya, tiket bus damri , bahkan bagasi tag dari pesawat. Satu demi satu kertas-kertas lecek yang tulisannya makin pudar, satu demi satu pula berbagai kenangan perjalanan pun mulai terbayang di benak.

Berbagai kepingan perjalanan pun akan saya coba hamparkan disini menjadi sebuah tulisan agar tidak hilang begitu saja seperti kenangan. Beberapa yang masih sempat terbaca tulisannya beserta kisah yang menyertainya  diantaranya adalah :

Tag milik maskapai Citilink untuk penerbangan Surabaya Makassar, Pukul 17.00 WIB. Ini adalah tag bagasi milik teman seperjalanan saya yang tertukar dengan milik saya. Bukan bagasinya yang tertukar, tetapi petugas check in-nya ngasal naruh tag di bawaan bagasi kami. Saya masih ingat betul, tag itu bertanggal 04 April 2016, hari pertama saya berangkat karena selembar SK ke Kota Makassar. Begitu berat karena untuk pertama kalinya harus berpisah dengan keluarga apalagi Karin sudah mulai keluar tingkah aneh-anehnya. Nama yang tertera di tag bagasi tersebut adalah teman seperjalanan saya yang sama-sama dipindahkan ke tempat yang sama. Kenapa tanggal 04 April? Karena tanggal 05 nya kami pelantikan di Kantor baru.

Tag milik maskapai Garuda Indonesia, untuk balik ke Makassar dari Jakarta, saya masih ingat ini merupakan penerbangan saya diluar mudik atau dinas, tanggal 26 Februari 2017. Pesawat jam 01.30, sehingga pada tengah malam harus menjelajahi terminal 3 Bandara Soekarno – Hatta Cengkareng yang sudah sepi.  Karena ini adalah perjalanan saya untuk mengikuti tour fotografi, istilah kerennya Photo Trip. Perjalanan saya yang pertama kali mengikuti sebuah Photo Trip sehingga masih gamang dan banyak keraguan. Phototrip ini mengkhususkan hunting foto dengan diatur oleh seorang EO yang mengkhususkan fotografi lanscape. Asyiknya selain bertemu kenalan baru, bisa belajar bersama.

Receipt ini juga termasuk arena pertunjukan kebodohan dan keteledoran saya. Saya mengikuti event foto trip (sama waktunya dengan Tag Bagasi Garuda di atas) di daerah Anyer, agar nggak terlalu mepet dengan waktu meet up nya, saya berangkat malamnya. Tentu saja saya sudah menyiapkan segala sesuatunya termasuk mau nginap transit dimana, saya pesan melalui aplikasi. Hingga sampailah saya di depan receptionis hotel budget di kawasan Setiabudi Jakarta, di mana abang receptionist sedang melototi layar HP saya, sebelum kemudian bersabda : “Ini pemesanan untuk kemarin Pak, jadi sudah kadaluarsa” Dhweeenkk Skidiiip pap pap…suara bapak itu benar-benar seperti hantaman petir ke jidat saya. Ustad Ganteng se Makassar yang bercita- cita hendak mengisi tiga slot tersisa, yang saat itu menemani saya, karena tempat tinggal blio dekat dengan hotel ini,  sontak kaget sebentar sambil menahan senyum parah. Hingga akhirnya blio mengajak mencari hotel sekitarnya,  dan ternyata mudah saja sampai di hotel tersebut di atas.  Untunglah ini Jakarta, bukan di Gempolan.

Mayoritas perjalanan saya ke Makassar dan sebaliknya, dilakukan dengan maskapai milik Lion Group. Meskipun amat sangat seenaknya, lihat saja dari boarding pass diatas yang JT 800, awalnya untuk penerbangan jam 22.25, suatu saat bisa diubah menjadi 20.45. Karena bila ditambah dengan delay plus perbedaan waktu yang lebih lama, bila mengambil jam 22.25, sampai di Kota Makassar bisa dipastikan hampir subuh. Akhirnya saya mengambil penerbangan lebih sore dengan resiko memotong waktu dirumah yaitu dengan JT 704, jam 16.30 toh bila ditambah delay sejam dua jam, sampai Makassar nggak barengan dengan kuntilanak pulang kerja. Terakhir, JT 704 pun sudah pindah menjadi jam 18.20 meskipun prakteknya paling cepat terbang jam 19.00.

Ini adalah receipt dari Sigma travel Madiun. Waktu itu kami masih tinggal di Kota Madiun, sehingga saya berangkat ke Makassar dari Madiun. Saat itu barengan dengan dua orang kawan lagi sesama pegawai di GKN Makassar sehingga recepit tadi atas nama teman yang mesan. Kami mengambil penerbangan Sriwijaya Air jam 19.00 sehingga kami harus sudah sampai di Bandara jam 17.00. Travel tepat waktu, tetapi sesampainya di konter Check In, diberi tahu pesawat Delay menjadi jam 23.00 maka menggelandanglah kami tak tentu arah di Bandara.

Selain dengan maskapai Lion Group, sesekali bila waktunya pas, saya memakai maskapai Sriwijaya Air. Jam penerbangan yang saya pilih adalah, 21.30. Tetapi bisa dipastikan, karena itu adalah pesawat dengan tujuan utama kota-kota di Papua dan Ambo, Makassar hanya transit saja, maka jam nya diundur jam 24.00. Bandara sudah sangat sepi, toko-toko, restoran sudah pada tutup. Mungkin karena kami ini adalah penerbangan terakhir. Pernah suatu kali saya berpapasan dengan rombongan Ibu Khofifah Indar Parawansa waktu beliau masih menjabat Menteri Sosial. Untuk sekelas menteri, rombongan nggak banyak hanya sekitar kurang lebih lima orang. Dari obrolan yang saya tangkap, bliau mau dinas ke Ambon. Untuk melepas lelah karena sudah hampir tengah malam, bliau ngglosor begitu saja di kursi ruang tunggu yang kosong.

Ini adalah recepit dari Jalan Tol reformasi di Kota Makassar arah Bandara atau sebaliknya. Sopir taksi akan menawari apakah lewat jalan arteri atau Tol, apabila lewat tol, tentu saja kita harus membayar sendiri karena itu diluar biaya taksi. Makanya untuk mempermudah, jauh sebelum pembayarannya melalui uang elektronik, kami para PJKA sudah membekali diri dengan kartu-kartu uang elektronik tersebut. Tol ini cukup unik, disaat yang lain semua harus memakai uang eletronik, tol ini masih menyediakan satu gerbang untuk pembayaran tunai. Celakanya, yang satu gate ini justru lebih banyak dari yang elektronik (emoney) sehingga membuat antrian panjang. Celakanya lagi, karena emoney lebih cepat antriannya, antrian tunai ini ikut antrian emoney, baru setelah dekat gate tunai, nrombol keluar barisan. Makassar gitu loh
Ini adalah boarding pass penerbanagan Makassar – Surabaya dari Maskapai Citilink Indonesia jam 20.00 WITA, maskapai yang enak tepat waktu meski low cost juga, tetapi sampai Surabaya sudah agak malam, apalagi saya masih harus ngejar bus Patas Harapan Jaya. 22 April 2016, masih beberapa minggu di Kota Makassar. Sebelum saya bertemu dengan JT 787 Lion Air yang legendaris. Akan saya ceritakan tersendiri dalam sebuah tulisan.

Ini adalah langganan saya untuk berangkat ke Makassar, JT 704. Dalam sejarah saya naik ini, hanya sekali saya dipanggil boarding jam 18.00, waktu itu saya yang sedikit meremehkan saya masih nyantai-nyantai habis makan di Bangi Kopi, sehingga harus lari-lari karena tiba-tiba sudah panggilan kedua, lainnya berangkat jam 19.30 atau 20.00, bisa berangkat 19.00 itu sudah sangat bagus.

Ini adalah selembar tiket yang mengajarkan saya agar jangan mudah percaya pada kondektur bus. Saya naik Bus Patas Harapan Jaya dari terminal Purabaya sampai dengan terminal Gayatri di Tulungagung. Kondisi sudah malam dengan penumpang bus yang penuh sesak. Apalagi biasanya saya dapat bus yang terakhir. Jangan dikira meski Bus Patas, penumpang berdiri pun boleh masuk. Karena sudah lelah, setelah membayar biasanya saya percaya saja dengan kondektur, karcis langsung saya masukkan tas. Ndialalah, jauh hari kemudian saya mendapati kenyataan  bahwa meski saya membayar penuh, ternyata di karcis hanya dicoret sampai Kediri. Apakah kesengajaan, saya yakin sengaja karena bila melewati batas kota, kondektur melakukan checking antara jumlah karcis dan jumlah penumpang, harusnya karcis arah tulungagung kurang satu dan blio ini pasti sudah heboh. Apalagi secara acak akan ada petugas kontrol yang nyegat di suatu tempat. Pelajaran saya di masa depan agar jangan pernah pernah percaya pada kondektur Bus. 😁

Perubahan kebijakan, apabila dilakukan secara mendadak akibatnya adalah fatal bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan kebijakan tersebut. Contoh kecilnya adalah perubahan (penambahan/pengurangan) cuti bersama. Cuti bersama biasanya untuk liburan Hari Raya Idul Fitri, jauh-jauh hari bagi perantau seperti kami sudah  menyiapkan tiket mudik dan balik karena kaitannya dengan ketersediaan dan harga. Makin dekat hari makin mahal atau makin habis. Kertas lecek diatas adalah form permohonan refund tiket kereta api Pasundan Madiun-Surabaya Gubeng, karena ada penambahan cuti bersama, saya harus mengubah jadwal balik ke Kota Makassar sehingga tiket Madiun – Surabaya yang telah saya beli sebelumnya harus saya batalkan.

Karcis ini merupakan bukti pembayaran/pemesanan taksi di Bandara Sultan Hasanudin. Tempat tinggal saya di Kota Makassar berada di zona III. Harga tersebut bila dibandingkan dengan taksi online bisa separuh kurangnya, sehingga kami beramai-ramai kucing-kucingan dengan petugas bandara untuk mencari taksi online. Sering sekali di pintu keluar mereka (taksi online) ini sudah dicegat oleh petugas bandara untuk di interogasi, penumpangnya disuruh keluar. Bahkan menurut cerita driver yang saya tumpangi, sekali dua kali pernah kena tempeleng juga. Semoga ada perbaikan tentang penarifan taksi di Bandara.

Mengumpulkan kepingan dan jejak perjalanan yang berserakan, semoga memiliki makna untuk perjalanan berikutnya di masa depan. Tulisan ini juga bisa sebagai penutup episode  di Kota Makassar.

Tabik Di’

Sore yang mendung, Jtpd yang adem, Jakarta Selatan

 

 

This entry was posted in TRAVELING. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *