Fotografer Serabutan

sumur bor
Sumur Bor

Menurut situs artikata.com, serabutan memiliki makna : cenderung melakukan apa saja (tt pekerjaan, peran, dsb). Oleh karena ada kaitannya dengan melakukan apa saja, maka makna ini saya kaitkan dengan hobi saya yaitu fotografi

Sekedar catatan dan review tingkah polah saya selama menggeluti hobi ini. Saya pernah membaca sebuah catatan fotografi dari Mbahnya Fotografer di Indonesia. Menurut Mbah Arbain Rambey terdapat salah kaprah terhadap penyebutan fotografer yang tingkat mahir dan tingkat pemula kaya saya. Kalau tingkat mahir itu biasa disebut profesional dan tingkat pemula disebut amatir.

Padahal tidak begitu, semahir apapun seorang fotografer bila hanya sekedar hobi dan tidak digunakan mencari penghasilan, sampai kapan pun tetap dianggap fotografer amatir demikian juga bila sekonyol apapun fotografer kalau tujuannya untuk mencari penghasilan, tetapi disebut fotografer profesional.

Ada berbagai aliran dalam dunia fotografi antara lain adalah landscape, human interest portrait model. Sebenarnya masih banyak, tapi daripada saya capek ngetik saya ambil tiga saja. Paling tidak aliran ini pernah saya coba.

Landscape menggeluti bidang pemandangan, jadi obyek di dalamnya semua ada hubungannya dengan alam.

Fotografi Human Interest bisa dibilang mengabadikan obyek keseharian manusia, dengan sub street photography.

Fotografi portrait objek yang digunakan adalah seorang model yang berusaha ditonjolkan sisi yang menarik dari model tersebut. Biasanya wanita.

Mendapati pengkotak-kotakan ini, sebagai fotografer anyaran tentu saja saya bakalan bingung bila ditanya : “Panjenengan fotografer aliran mana?”

Ndilalah kok tidak pernah ada yang bertanya begitu. T

Tapi meskipun nggak ada yang nanya, biarlah saya berusaha mendudukkan diri sebagai fotografer serabutan. Kenapa? Karena untuk mengkhususkan diri pada suatu aliran susahnya setengah mati.

Fotografi Landscape mau nggak mau harus mblasak ke tempat antah berantah di pagi-pagi buta karena foto landscape yang paling bagus hanya pada saat sebelum sunrise dan sesudah sunset. Apalagi domisili saya jauh dari tempat-tempat yang eksotis begitu.Bila memaksakan diri biasanya akan sampai tempat itu pada tengah hari bolong yang menyebabkan contrast sangat tinggi.

Portrait model menunggu kalau ada event hunting bareng dari komunitas fotografi yang saya ikuti.

Pernah suatu saat saya bengong saja dirumah, mau nge-landscape bangun kesiangan, mau model nggak ada event.

Ndilalah tiba-tiba saja anak lelaki saya baru pulang main dari tempat Om saya dan berkata: “Tempat Mbah Bambang lagi bikin sumur bor”

Langsung saja ide melintas di benak saya. Ini nih human interest, langsung saya ambil kamera dan pergi di pekarangan belakang rumah Om saya yang terletak di samping rumah ibuk saya. Saya jepret kesibukan tukang sumur bor itu. Sampai-sampai bapak-bapak tukang sumur bor itu ketawa-ketawa keheranan melihat saya foto-foto mereka. “Meh dilebokne TV yo Mas?”

Nglobot, Disuka Karena Rasa
Nglobot, Disuka Karena Rasa

Nggak susah, nggak sulit dan tidak makan waktu serta biaya. Waktu saya upload di pixoto.com, mendapatkan skor yang lumayan memuaskan.

Begitulah kisah fotografer serabutan. Apa saja yang penting bisa difoto. Foto boleh nggak jadi bagus, tapi moto harus membuat kita bahagia.

Setuju?

This entry was posted in BELAJAR FOTOGRAFI. Bookmark the permalink.

2 Responses to Fotografer Serabutan

  1. galihsatria says:

    Wah, berarti harus siap banyak alat, mulai lensa pendek sampai panjang, terus soft box, terus payung, light meter, lan sak pinunggalane :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *