Manajemen Koplak

Saya pertama kali mendengar kata “koplak” waktu bertugas di daerah Jawa Tengah. Beberapa kali kawan kantor apabila bercanda, saling mengolok selalu mengeluarkan kata “koplak” sambil tertawa terbahak-bahak.

Koplak kalau saya baca referensi di situs kitabgaul.com ternyata artinya jadi buanyak banget, jadi saya ambil saja salah satunya, koplak itu seperti gokil, tapi sedikit negatif dan terkesan lebih goblok, biasanya karena orang melakukan kelalaian tapi nggak selalu, bisa juga mengekspresikan kegelian dan kejengkelan secara bersama-sama.

Judul postingan ini Manajemen koplak, kalau sudah berkaitan dengan manajemen, tentu saja ada kaitannya dengan perusahaan yang sedang saya periksa. Saya ditugaskan ngaudit sebuah perusahaan dengan usaha pokoknya adalah properti.

Dalam proses pemeriksaan itu saya selalu berhubungan dengan karyawan perusahaan yang namanya Mbak Jarah, kalau menurut ceritanya, sebenarnya nama yang diberikan orang tuanya adalah Sarah, entah kenapa sama Pak Modin, nama di akte kelahirannya ditulis menjadi Jarah, mungkin dahulu kala di kelurahan penerangannya masih pake obor dan pake mesin ketik antik peninggalan jaman jepang jadi susah membedakan huruf S dan J, dan namanya terpakai hingga saat ini.

Mbak Jarah ini orangnya cukup ramah dan memiliki badan yang subur, dengan lancar menceritakan usaha yang dilakukan perusahaannya. Perusahaannya ini dipimpin oleh seorang Direktur dan kita sebut Pak Direktur.

Berdasarkan profil yang disampaikan Mbak Jarah, Pak Direktur ini orangnya rada-rada nggapleki dan mokong. Tentu saja kalau nggak mokong, teman AR nggak bakal repot-repot nyuruh saya ngaudit. Sampai-sampai Mbak Jarah yang subur ini nangis-nangis memohon untuk resign saking nggak tahannya sama Bosnya ini.

Ada beberapa kekoplakan yang berhasil saya rekam yang akan saya sampaikan exclusive untuk panjenengan (halah), antara lain :

1. Rekening Bank

Properti pasti usaha pokoknya jual beli tanah/rumah dan tentu saja melibatkan perputaran uang yang nggak sedikit, jadi nggak mungkin transaksinya secara cash dengan bawa uang pakai karung beras, jadi pasti melibatkan rekening bank, dan pasti juga bank yang bonafid, bukan bank thithil atau bank plecit.

Nah di perusahaan ini Aliran uang keluar masuk melalui rekening tabungan, bukan rekening koran, tapi rekening tabungan setingkat tapelpram. Gimana auditornya nggak puyeng. Itupun atas nama pribadi Pak Direktur, uang penjualan, uang muka dari pembeli semua di handel oleh beliau ini. Nah yang konyol, tiap ada uang masuk langsung diambil Pak Direktur, yang katanya untuk bisnis yang lain yaitu tembakau. Masih mending kalau nggak dipakai untuk beli bumbu dapur.

2. Akta Pendirian Perusahaan

Suatu saat Mbak Jarah yang subur (sudahlah) membawa dokumen akta pendirian yang saya minta. Mata saya melotot seperti mau lepas melihat daftar pengurus dan pendiri perusahaannya. Mbak Jarah sepertinya sudah tau kegalauan saya. Dengan wajah sedih dan penuh air mata, Mbak Jarah ini menjawab keheranan saya. (Wajah sedih dan penuh air mata-nya tolong di skip)

“Iya, Pak. Saya memang Komisaris disitu”

“Lhooo?” Saya melolong

“Saya dipaksa sama Pak Direktur, seperti kisah Siti Nurbaya” (Siti Nurbaya-nya tolong di skip)

“Lhoooo?” Lolongan saya makin panjang

Jadi sepanjang pertemuan itu, saya cuman ndlongop Lha Lho thok. Mbak Jarah melanjutkan cerita, pada saat membuat akte tersebut, mbak ini juga disuruh membuat Surat Pernyataan bahwa namanya hanya dipinjam saja sebagai Komisaris pada saat pembuatan akta pendirian dan dilarang meminta laba/keuntungan perusahaan dalam bentuk apapun meskipun dalam kedudukan sebagai komisaris. Sakti kan?

“Sampeyan kok mau Mbak?” Kali ini saya nggak melolong.

“Lhooo gimana tho Pak” Giliran dia yang melolong (halah).

3. Ekspansi usaha

Mbak Jarah juga menceritakan bahwa Pak Direktur, tiap tahun selalu melakukan ekspansi usaha dari hasil penjualan perusahaan dan ini dilakukan setiap tahun. Wow, saya pun terkagum kagum dengan kegigihannya. Mbak Jarah menyebutkan bahwa ekspansi usaha yang dilakukan adalah jualan kembang api dengan buka lapak di bunderan kota tiap bulan puasa dan lebaran.

Mau nggak mau, saya harus melolong lagi.

Madiun, 22 Mei. 2014

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in NDONGENG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *