Bukan Milikku tapi Ku Bubarkan.

Sebuah berkas hinggap di meja saya, sebuah pemeriksaan yang harus saya selesaikan. Iya donk, masa harus saya buang hehe. Sebuah berkas tentang pembubaran sebuah persekutuan komanditer yang nama simpelnya CV. Pembubaran sebuah badan harus melalui pemeriksaan dengan tujuan untuk mengclearkan aspek-aspek perpajakannya. Misalnya kalau ada persediaan akhir, itu larinya kemana, aktivanya dialihkannya kemana. Semua ada unsur-unsur perpajakannya.

Jadi harus dibereskan makanya dilakukan pemeriksaan. Audit-audit model gini biasanya favorit auditor karena, biasanya yang mengajukan penghapusan adalah tipe-tipe wajib pajak galau yang bingung mau usaha apaan, nggak jelas mau ngapain kemudian dibubarkan. Jadi nggak bakalan ada kegiatan usaha, nggak bakalan banyak mikir. Selesai.

Saya hubungi kontak yang ada di surat permohonan penghapusannya untuk proses selanjutnya. Saya ketemu dengan mbak-mbak yang ada di kontak. Mbaknya cerita-cerita tentang proses pembubarannya, kalau CV itu merupakan hasil beli dari orang lain, kemudian hasil pembeliannya dirubah jadi bentuk perseroan terbatas (PT) makanya NPWP dari CV tersebut minta dihapus dari database.

Insting konyol saya mencium kalau ada ketidak beresan (halah lebay). Mbaknya saya tanya lebih jauh cuman bisa menjawab dengan kata sakti mandraguna yang membuat saya terdiam seribu bahasa “Maaf Pak, saya cuman disuruh” Glodak!! Lalu hening….

Pak Direktur yang sebut saja namanya Pak Kromo datang ke kantor didampingi mbak-mbak kata sakti tadi. Tanpa banyak basa basi, Pak Kromo mulai mendongeng tentang asal muasal evolusi CV jadi PT nya.

“Jadi begini Pak, CV nya saya beli dari seseorang yang namanya Pak Rumidi, kemudian setelah ganti kepemilikan, saya datang ke notaris untuk diubah jadi PT”

“Lho Pak, waktu beli nya itu ada hitam di atas putih apa nggak,ke notaris apa nggak?”

“Nggak ada Pak”

“Waktu panjenengan ke notaris buat ngubah CV jadi PT, Pak Rumidi ikut nggak Pak?”

Mulai hening…

“Kok beraninya panjenengan ngubah itu CV tanpa ijin pemiliknya,lha notarisnya kok juga berani ya?”

Hening….

“Sekarang keberadaannya Pak Rumidi ada dimana Pak?”

Hening juga, ya bagaimanapun itulah realitas yang selalu ada di lapangan.Setelah itu, tugas saya adalah membuat laporan hasil pandangan mata dan tanya jawab, yang harus ajukan ke Bos saya, namanya Pak Supervisor.

Waktu saya ajukan berkas laporan yang sudah saya buat, Pak Supervisor malah mengerutkan kening dalam-dalam. Wah saya jadi cemas, jangan-jangan, beliau malah nggak setuju sama sama pendapat saya, otomatis kan mulai lagi dari nol.

“Den, saya udah baca laporanmu, saya pengin ketemu Pak Kromo, panggil kesini ya?”

“Kenapa Pak, ada yang salah sama laporan saya?” Saya mulai cemas.

“Nggak kok, saya pengin ketemu sama Pak Kromo, dulu kan dia ini semacam penyiar di RRI sini yang juga menjabat koordinator acara. Saya dulu vokalis Band Keroncong yang main di acaranya dia, jadi pengin ketemu, karena udah lama banger nggak ketemu”

Glodak….

twitter@denbei10

 

This entry was posted in NDONGENG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *