Pagi-pagi setiba di cubicel saya selepas setor jempol absen di lantai bawah, perhatian saya tersita sama sebuah map dan segepok berkas yang nongkrong dengan begitu indah di meja cubicel. “Wah, kerjaan baru neh” Batin saya.
Bener juga, belum sempat saya sentuh, Pak Supervisor sudah teriak dari balik istana kacanya, istana kaca beneran karena tempat beliau ini dari box yang terbuat dari kaca tembus pandang. “Den, itu ada SP baru, segera pelajari dan siapin berkas-berkasnya, usahain sebelum siang kita dah nyampe tempatnya”. “Siap, Pak” jerit saya.
Kemaren sore memang sehabis ke lapangan disertai nyupir Panther plat merah buatan tahun 2000 an yang rasanya udah kaya nyupir truk gandeng seharian, saya memang ijin buat ngilang duluan, tepar bo’ jadi supir sekalian nyari alamat yang bagaikan nyari rumput di jerami.
Bayangkan saja, alamatnya itu terdiri dari RT sekian RW sekian, Desa Anu Kec Itu. Hanya bisa dibantu GPS yang merknya cap Mulut alias nanya. Nggak kebayang kan musti nanya-nanya tempat yang kita sama sekali asing. Alamat yang mesti diperlakukan kaya gitu nggak cuman satu, tapi lebih dari sepuluh biji.
Kemudian yang saya lakukan adalah menyiapkan berkas sekaligus mempelajari data yang ada. Dari data yang tersedia, wajib pajak yang mau saya datangi untuk dilakukan pemeriksaan adalah kontraktor yang sedang membangun sebuah komplek perkantoran pemerintahan sebuah kabupaten. Mbayanginnya saja pasti wow, mengingat nilainya milyaran, pastilah kontraktornya bonafid.
Setelah semuanya siap, saya kontak emak-emak anggota tim audit yang lain, ternyata dua-duanya kompak nggak pengin ikut ke lapangan. Maklumlah emak-emak semangatnya berbanding lurus dengan moodnya. “Aku ntar ada janji sama ini” satunya lagi “Aku lagi ngelarin laporan”. Sambil matanya nggak lepas dari monitor komputer masing-masing.
Akhirnya saya berangkat berdua dengan Pak Supervisor. Alamat kantor yang tertera di database adalah sebuah rumah di dalam komplek perumahan. Langsung saja dengan Panther plat merah yang selalu setia menemani kami (ya iya lah wong adanya itu dan disediainnya sama kantor cuman itu).
Ternyata nyari alamatnya tersebut cukup sulit, karena berada di komplek perumahan nggak terkenal, agak mblusuk lagi. Dengan bantuan GPS cap mulut, akhirnya nyampe juga. Sebuah rumah type 45 yang seperti nggak berpenghuni, dengan siang hari bolong begini lampu di teras menyala terang. Wah, pasti rumah ini lagi kosong. Saya pun nanya sama bapak-bapak yang lagi main gaple di rumah depannya. “Wah, rumah itu memang kosong Pak, itu rumah di kontrak Pak Toyo, dia lagi ngurus proyek di bangunan sebelah Rumah Sakit”
Bayangan saya akan sebuah perusahaan konstruksi bonafid dengan omset milyaran, dengan kantor yang penuh dengan lalu lalang pegawai dan ribut-ribut suara mesin printer hilang sudah. Tinggal saya yang tenggelam dengan pikiran penuh kegalauan saya sendiri.
“Kok iso menang tender milyaran”
“Tender e model e koyok opo”
“Kontraktor sing ngontrak” sudah kayak jeruk minum jeruk.

