Sunat : The Chronicle

Menunggu, suatu hal sangat menjemukan dan bisa menjadi sangat menyeramkan. berkali-kali pandangan saya menyapu-nyapu ke sebuah pintu sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah ini.Pintu berwarna putih itu seperti sangat menyeramkan, bagaikan sebuah pintu menuju lorong kematian. Keringat dingin mulai membasahi kening, tangan mulai terasa dingin. saya seperti duduk diatas bara api. Kemuadian Saya pun melihat sekeliling, ternyata hanya saya yang mengalami kecemasan, bapak dan para kerabatnya justru tertawa tawa bersenda gurau tidak lupa kepulan asap rokok yang tidak ada hentinya. mereka seperti tidak menghiraukan jantu ng saya yang bagaikan berdentangan tak ada hentinya. Terjawablah mengapa mereka berlaku seperti itu karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan (oleh mereka). Saya sedang menghadapi sebuah fase penting dalam hidup saya. Saya sedang menunggu panggilan dari balik pintu untuk melakukan ritual : disunat.

Masa paling penting bagi setiap pria di muka bumi terutama yang mulai memasuki akhil balik, syarat untuk masuk menjadi pemeluk agama islam yang sah adalah melakukan ritual khitan. Khitan adalahmemotong kulup (kulit) yang menutupi ujung zakar kemaluan laki-laki adalah salah satu tindakan yang disyariatkan dalam Islam terutama karena sunat (Inggris, circumcision) itu mempermudah seorang muslim untuk mensucikan diri dari najis. Sedangkan suci dari najis menjadi prasyarat utama untuk sahnya salat.

Continue reading

Posted in NDONGENG | Leave a comment

Tips Barang Hilang di Bandara

Bandara Sultan Hasanuddin

Hari Jumat, hari mudik adalah hari paling riang dan paling ditunggu oleh saya dan para perantau pencari sesuap nasi lainnya. Harusnya saat ini saya sudah duduk manis di ruang tunggu bandara Sultan Hasanudin Makassar yang megah, tetapi ternyata saya masih meringkuk disini. Kantor perwakilan PT. Angkasa Pura di Bandar Udara Sultan Hasanudin Makassar cukup ramai dengan lalu lalang petugas tidak sebanding dengan ukurannya, saya duduk termangu di salah satu sudut ruangan yang agak sempit itu.

Spontan, perhatian saya teralihkan ketika Salah satu mbak Petugas menjerit “Buruan 5 menit harus sudah kesini” sambil tersenyum jenaka. Suara itu membetot perhatian saya karena apa yang dijeritkan itu ada hubungannya dengan ringkukkan saya di ruangan sempit ini.

Bagaimana bisa saya nyasar di kantor ini, padahal ini adalah waktunya saya beranjak ke ruang tunggu setelah melalui proses check in untuk  boarding sebelum flight ke Surabaya. Ceritanya berawal dari sebuah pesan WA dari kawan lama saya. Kawan lama saya ini satu minggu yang lalu dinas ke kota Makassar. Kawan lama yang merupakan kawan kuliah juga yang baru pertama kali bertemu setelah kita semua lulus kuliah dan ditempatkan di seluruh penjuru negeri.

Pesannya adalah minta tolong mencarikan tas milik kawan seperjalanannya yang kemungkinan ketinggalan di counter x-ray bandara satu minggu yang lalu. Tentu saya menyanggupi dengan senang hati meskipun ada sedikit pesimisme berbisik di hati. Apa ya masih ada barang itu seandainya memang benar-benar ketinggalan, toh kejadiannya seminggu yang lalu.

Continue reading

Posted in TRAVELING | Leave a comment

Tombol Send, Surga atau Neraka

Sebuah kabar berita melintas di timeline facebook saya, seorang user twitter sowan meminta maaf kepada ulama senior dan sepuh, KH. Mustofa Bisri karena telah berhasil memaki cuitan Pak Kyai dengan kata-kata frontal “Ndasmu”. Kemudian di unggah pula screenshoot hujatan seorang ibu-ibu juga kepada cuitan Pak Kyai melalui media facebook.

Jagat dunia maya benar-benar telah mengalahkan jagat nyata. Seperti contoh hujatan pada Kyai Mustofa Bisri tadi, dia bisa begitu jumawa oleh sebab alasan klasik karena kalut dengan masalah pekerjaannya dan yang ibu-ibu facebook sedang mengalami masalah keluarga, karena suaminya jarang pulang.

Apabila panjenengan sedang mengalami dunia yang sumpek, kalut kikuk pengin makan sendal, menjauhlah dari tombol send sosial media karena apapun informasi yang terdapat di time line, dan kita berseberangan pendapat dengan infromasi tersebut, tentu kita akan membuat status, cuitan untuk menanggapi yang menurutkan emosi karena tertutupinya hati yang bening oleh kekalutan masalah tadi. Hanya penyesalan yang tersisa  setelah tombol send dipencet.

Continue reading

Posted in ANGEN2 | Leave a comment

Kesejukan di Tengah Terik Makassar

Bila ingin menikmati sejenak sifat asli anak manusia, merayaplah ke jalan raya (quote by denbei.info 2016 -halah-)

Prolog diatas cocok untuk menggambarkan betapa jalanan sudah menjadi tontonan keganasan, egoisme dan hukum rimba buas di jaman modern ini. Beberapa waktu tinggal dan mencari sesuap nasi di Kota Makassar yang panas, juga kadang menampakkan wajah yang sinis, saya sedikit banyak bisa memahami banyak hal unik selain bahasa dan kulinernya tentu saja. Sedikit contoh  yang saya alami setiap hari adalah kondisi lalu lintasnya. Seperti kota besar lainnya, macet adalah ciri khas utama dari sebuah kota besar.

Tetapi terdapat kekhususan dari kondisi lalu lintas di kota ini. Saya mengalami setiap hari, lalu lintasnya sangat semrawut dan krodit. Apalagi di jam-jam sibuk dan pulang kantor. Saling serobot saling potong jalur sudah amat biasa disini. Seakan, menyerobot jalur  merupakan sebagian dari iman. Bila panjenengan mau belok ke kanan tentu panjenengan harus berada di jalur kanan.  Tetapi harap diingat banyak kejadian pas kita mau belok posisi kita dipotong secara tiba-tiba oleh pengendara yang mau belok ke kiri, lah dia malah berada di jalur kanan juga.

Continue reading

Posted in NDONGENG | 2 Comments

Simbologi Budaya Jawa (2)

DSC_0156
Alun-Alun Madiun

Suatu ketika, akhir bulan ketiga tahun ini, meja peneliti dan helpdesk SPT Tahunan terlihat  lengang, cukup waktu untuk saya menekuri Sony Experia C yang tampangnya sudah amburadul. Saya melirik partner peneliti di ujung meja seberang, juga sedang menatap kosong deretan kursi antrian yang disediakan untuk wajib pajak. Semoga, pikirannya bukan melayang memikirkan target extra effort yang masih jauh panggang dari api. Tidak seperti biasanya bulan-bulan ini yang merupakan waktu memdekati akhir masa pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi dimana  kebiasaan orang Indonesia adalah melaporkan di saat-saat akhir.

Ditengah keasyikan saya menekuri HP, tiba tiba saja tanpa saya ketahui dari mana datangnya, muncul di depan saya seorang bapak-bapak berpakaian keki khas uniform pegawai Pemda. Saya sedikit mengerutkan dahi, profil bapak ini agak jauh dari bayangan seorang PNS. Sosoknya bisa dibilang nyentrik dan nyeniman, agak lusuh, dengan kumis dan jenggot panjang nggak beraturan serta memiliki rambut gondrong yang diikat ekor kuda. Wow, jauh dari profil seorang PNS yang untuk potongan rambut saja diatur. Saya kok malah membayangkan seorang penyanyi, Pak Sawung Jabo berpakaian ala pegawai Pemda.

Continue reading

Posted in ANGEN2 | Leave a comment

Seringai Wajah Drakula

Sebagai buruh negara, oleh negara yang mempekerjakan, saya diberikan berbagai fasilitas diantaranya adalah asuransi kesehatan untuk saya dan seluruh anggota keluarga. Dahulu bernama asuransi kesehatan (Askes) yang sekarang malih rupo jadi BPJS Kesehatan. Askes ini merupakan asuransi kesehatan yang sudah melegenda sebagai asuransi monopoli buat Pegawai Negeri Sipil semenjak bapak dan ibu saya masih sebagai PNS aktif. Perubahan BPJS kesehatan ini membuat lembaga asuransi ini melayani seluruh warga masyarakat tanpa kecuali.

Bila bersentuhan dengan asuransi, saya memiliki pengalaman yang sedikit ngenes. Medio akhir 2001, saya telah menyelesaikan kuliah yang sangat melelahkan dan menyiksa, menyiksa karena hampir dua pertiga waktu pendidikan saya habiskan dengan kuliah dan menahan rasa sakit. Awal mulanya adalah saya  mendapatkan cedera waktu bermain sepak bola di lapangan kampus. Ingat, dahulu saya adalah seorang deep lying playmaker handal (halah). Cedera yang meskipun terasa sakit tapi saya abaikan hingga ternyata menjadi cedera kronis. Sehingga nggak heran bila sehari sesampainya di rumah setelah kepulangan dinyatakan lulus kuliah, saya terkapar tidak berdaya.

Saya menyusuri lorong-lorong panjang RSUD dr. Soetomo Surabaya dengan merayap. Kenapa merayap karena untuk duduk saja harus menahan sakit apalagi harus berjalan. Diagnosis awal menyebutkan saya harus menjalani perawatan intensif  dengan biaya yang nggak sedikit. Untunglah waktu itu ibu saya membawa kartu Askes punya bapak karena masih dalam tanggungan. Hanya saja kami harus melapor dulu ke bagian askes.

Continue reading

Posted in NDONGENG | 2 Comments

Kisah Pencarian : Jodoh Harus Dijemput (2)

Berikut ini merupakan kisah sambungan dari pencarian seorang wanita dalam mencari lelaki pujaannya alias jodohnya, hal yang cukup tabu di kalangan masyarakat kita. Sugeng Midangetaken…

Tanggapan pertama tentu saja kaget, kenapa ada seorang wanita yang terang-terangan mencari pria. Tetapi naluri seorang ibu lebih mendominasi perasaannya sehingga menerima dengan baik dan ramah kedatangannya. Mbak Mie bertandang lebih dari sekali, sehingga semakin akrab dengan keluarga pria idamannya, terutama dengan ibu dan kakak perempuannya.

Sampai disini, Mbak Mie sama sekali belum pernah bertemu dengan sang pria. Disinilah strategi brilian Mbak Mie, dengan tidak mendekati sang pria tetapi mendekati keluarganya. Maksud dan tujuan Mbak Mie mendapatkan sambutan hangat dari keluarga.

Continue reading

Posted in NDONGENG | Leave a comment

Nge-Trip Foto : Negeri di Atas Awan

Tongkonan Lempe, Tana Toraja

 

Kantor saya punya group jalan-jalan alias traveling dengan anggota group sebagian besar adalah para bulok alias bujang lokal yaitu status bujangannya hanya di tempat kerja saja. Traveling ini salah satu cara untuk membunuh waktu bila tidak pulang menjenguk keluarga nun jauh disana. Anggota yang lain adalah para jomblo mania tulen. Namanya Makassar Selatan Travelling Comunity.

Group traveling di kantor saya merencanakan trip ke Kab Tana Toraja, salah satu spot wisata terkenal di Provinsi Sulawesi Selatan. Trip utama direncanakan ke daerah yang lagi nge-hit yaitu di Negeri di Atas Awan. Kata teman anggota group, ada beberapa spot negeri di atas awan yang akan dikunjungi.

Continue reading

Posted in TRAVELING | Leave a comment

Chasing The Sunrise

Sandar, Paotere Port

Dalam genre fotografi landscape atau pemandangan, foto sunset dan sunrise adalah favorit karena dalam suasana ini terjadi proses alam berupa keluarnya berbagai macam spektrum warna sehingga membuat tampilnya keindahan warna warni yang ditangkap sensor kamera. Menurut pengalaman saya, memotret sunrise memiliki keunikan dan tingkat kesulitan sendiri dalam menangkap gambar ke dalam sensor kamera karena berkebalikan dengan memotret sunset.

Memotret sunset kesulitannya adalah kita melawan kontras yang masih sangat tinggi akibat sinar matahari yang masih kuat pancaraannya, sehingga apabila meteringnya nggak pas, bisa jadi foto yang over exposure. Sedangkan memotret sunrise, suasananya dari gelap menjadi terang.

Bagaimana dengan memotret sunrise, pertama-tama bahan-bahan yang diperlukan adalah kamera (tentu saja), sebuah tripod dan shutter release bila ada, opsi tambahan filter ND dan GND. Saya datang ke salah satu spot sunrise di Kota Makassar selepas Shubuh dengan harapan masih cukup waktu untuk mempersiapkan kamera dan perabotannya. Waktu twilight sampai dengan waktu matahari terbit, hanya sekitar beberapa menit saja sehingga harus disiapkan dengan matang.

Continue reading

Posted in BELAJAR FOTOGRAFI | Leave a comment

Amnesti Pajak : Menuju Titik Nol

Negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud sedang punya gawe yang sangat besar yaitu gerakan kembali pulang alias menarik dana kepemilikan warga negara indonesia yang berada di luar negeri, untuk dipulangkan kenegrinya melalui instrumen Tax Amnesty atau Amnesti Pajak.

Uang yang pulang ini tentu saja akan digunakan untuk membangun berbagai proyek infrastruktur padat modal yang sedang digalakkan pemerintah di berbagai tempat di negeri ini. Misalnya saja untuk membangun Jalan Tol dan Jalur Kereta Api di luar jawa.

Latar belakang adanya Tax  Amnesti ini antara lain adalah adanya kesenjangan infrastruktur yang masih tinggi antara wilayah yang satu dengan yang lainnya, penurunan laju pertumbuhan sektor industri, defisit anggaran, defisit neraca perdagangan dan perlambatan laju ekonomi. Kesemuanya menimbulkan dampak antara lain pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan sosial yang makin meningkat.

Continue reading

Posted in PAJAK | 4 Comments