Kesejukan di Tengah Terik Makassar

Bila ingin menikmati sejenak sifat asli anak manusia, merayaplah ke jalan raya (quote by denbei.info 2016 -halah-)

Prolog diatas cocok untuk menggambarkan betapa jalanan sudah menjadi tontonan keganasan, egoisme dan hukum rimba buas di jaman modern ini. Beberapa waktu tinggal dan mencari sesuap nasi di Kota Makassar yang panas, juga kadang menampakkan wajah yang sinis, saya sedikit banyak bisa memahami banyak hal unik selain bahasa dan kulinernya tentu saja. Sedikit contoh  yang saya alami setiap hari adalah kondisi lalu lintasnya. Seperti kota besar lainnya, macet adalah ciri khas utama dari sebuah kota besar.

Tetapi terdapat kekhususan dari kondisi lalu lintas di kota ini. Saya mengalami setiap hari, lalu lintasnya sangat semrawut dan krodit. Apalagi di jam-jam sibuk dan pulang kantor. Saling serobot saling potong jalur sudah amat biasa disini. Seakan, menyerobot jalur  merupakan sebagian dari iman. Bila panjenengan mau belok ke kanan tentu panjenengan harus berada di jalur kanan.  Tetapi harap diingat banyak kejadian pas kita mau belok posisi kita dipotong secara tiba-tiba oleh pengendara yang mau belok ke kiri, lah dia malah berada di jalur kanan juga.

Continue reading

Posted in NDONGENG | 2 Comments

Simbologi Budaya Jawa (2)

DSC_0156
Alun-Alun Madiun

Suatu ketika, akhir bulan ketiga tahun ini, meja peneliti dan helpdesk SPT Tahunan terlihat  lengang, cukup waktu untuk saya menekuri Sony Experia C yang tampangnya sudah amburadul. Saya melirik partner peneliti di ujung meja seberang, juga sedang menatap kosong deretan kursi antrian yang disediakan untuk wajib pajak. Semoga, pikirannya bukan melayang memikirkan target extra effort yang masih jauh panggang dari api. Tidak seperti biasanya bulan-bulan ini yang merupakan waktu memdekati akhir masa pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi dimana  kebiasaan orang Indonesia adalah melaporkan di saat-saat akhir.

Ditengah keasyikan saya menekuri HP, tiba tiba saja tanpa saya ketahui dari mana datangnya, muncul di depan saya seorang bapak-bapak berpakaian keki khas uniform pegawai Pemda. Saya sedikit mengerutkan dahi, profil bapak ini agak jauh dari bayangan seorang PNS. Sosoknya bisa dibilang nyentrik dan nyeniman, agak lusuh, dengan kumis dan jenggot panjang nggak beraturan serta memiliki rambut gondrong yang diikat ekor kuda. Wow, jauh dari profil seorang PNS yang untuk potongan rambut saja diatur. Saya kok malah membayangkan seorang penyanyi, Pak Sawung Jabo berpakaian ala pegawai Pemda.

Continue reading

Posted in ANGEN2 | Leave a comment

Seringai Wajah Drakula

Sebagai buruh negara, oleh negara yang mempekerjakan, saya diberikan berbagai fasilitas diantaranya adalah asuransi kesehatan untuk saya dan seluruh anggota keluarga. Dahulu bernama asuransi kesehatan (Askes) yang sekarang malih rupo jadi BPJS Kesehatan. Askes ini merupakan asuransi kesehatan yang sudah melegenda sebagai asuransi monopoli buat Pegawai Negeri Sipil semenjak bapak dan ibu saya masih sebagai PNS aktif. Perubahan BPJS kesehatan ini membuat lembaga asuransi ini melayani seluruh warga masyarakat tanpa kecuali.

Bila bersentuhan dengan asuransi, saya memiliki pengalaman yang sedikit ngenes. Medio akhir 2001, saya telah menyelesaikan kuliah yang sangat melelahkan dan menyiksa, menyiksa karena hampir dua pertiga waktu pendidikan saya habiskan dengan kuliah dan menahan rasa sakit. Awal mulanya adalah saya  mendapatkan cedera waktu bermain sepak bola di lapangan kampus. Ingat, dahulu saya adalah seorang deep lying playmaker handal (halah). Cedera yang meskipun terasa sakit tapi saya abaikan hingga ternyata menjadi cedera kronis. Sehingga nggak heran bila sehari sesampainya di rumah setelah kepulangan dinyatakan lulus kuliah, saya terkapar tidak berdaya.

Saya menyusuri lorong-lorong panjang RSUD dr. Soetomo Surabaya dengan merayap. Kenapa merayap karena untuk duduk saja harus menahan sakit apalagi harus berjalan. Diagnosis awal menyebutkan saya harus menjalani perawatan intensif  dengan biaya yang nggak sedikit. Untunglah waktu itu ibu saya membawa kartu Askes punya bapak karena masih dalam tanggungan. Hanya saja kami harus melapor dulu ke bagian askes.

Continue reading

Posted in NDONGENG | 2 Comments

Kisah Pencarian : Jodoh Harus Dijemput (2)

Berikut ini merupakan kisah sambungan dari pencarian seorang wanita dalam mencari lelaki pujaannya alias jodohnya, hal yang cukup tabu di kalangan masyarakat kita. Sugeng Midangetaken…

Tanggapan pertama tentu saja kaget, kenapa ada seorang wanita yang terang-terangan mencari pria. Tetapi naluri seorang ibu lebih mendominasi perasaannya sehingga menerima dengan baik dan ramah kedatangannya. Mbak Mie bertandang lebih dari sekali, sehingga semakin akrab dengan keluarga pria idamannya, terutama dengan ibu dan kakak perempuannya.

Sampai disini, Mbak Mie sama sekali belum pernah bertemu dengan sang pria. Disinilah strategi brilian Mbak Mie, dengan tidak mendekati sang pria tetapi mendekati keluarganya. Maksud dan tujuan Mbak Mie mendapatkan sambutan hangat dari keluarga.

Continue reading

Posted in NDONGENG | Leave a comment

Nge-Trip Foto : Negeri di Atas Awan

Tongkonan Lempe, Tana Toraja

 

Kantor saya punya group jalan-jalan alias traveling dengan anggota group sebagian besar adalah para bulok alias bujang lokal yaitu status bujangannya hanya di tempat kerja saja. Traveling ini salah satu cara untuk membunuh waktu bila tidak pulang menjenguk keluarga nun jauh disana. Anggota yang lain adalah para jomblo mania tulen. Namanya Makassar Selatan Travelling Comunity.

Group traveling di kantor saya merencanakan trip ke Kab Tana Toraja, salah satu spot wisata terkenal di Provinsi Sulawesi Selatan. Trip utama direncanakan ke daerah yang lagi nge-hit yaitu di Negeri di Atas Awan. Kata teman anggota group, ada beberapa spot negeri di atas awan yang akan dikunjungi.

Continue reading

Posted in TRAVELING | Leave a comment

Chasing The Sunrise

Sandar, Paotere Port

Dalam genre fotografi landscape atau pemandangan, foto sunset dan sunrise adalah favorit karena dalam suasana ini terjadi proses alam berupa keluarnya berbagai macam spektrum warna sehingga membuat tampilnya keindahan warna warni yang ditangkap sensor kamera. Menurut pengalaman saya, memotret sunrise memiliki keunikan dan tingkat kesulitan sendiri dalam menangkap gambar ke dalam sensor kamera karena berkebalikan dengan memotret sunset.

Memotret sunset kesulitannya adalah kita melawan kontras yang masih sangat tinggi akibat sinar matahari yang masih kuat pancaraannya, sehingga apabila meteringnya nggak pas, bisa jadi foto yang over exposure. Sedangkan memotret sunrise, suasananya dari gelap menjadi terang.

Bagaimana dengan memotret sunrise, pertama-tama bahan-bahan yang diperlukan adalah kamera (tentu saja), sebuah tripod dan shutter release bila ada, opsi tambahan filter ND dan GND. Saya datang ke salah satu spot sunrise di Kota Makassar selepas Shubuh dengan harapan masih cukup waktu untuk mempersiapkan kamera dan perabotannya. Waktu twilight sampai dengan waktu matahari terbit, hanya sekitar beberapa menit saja sehingga harus disiapkan dengan matang.

Continue reading

Posted in BELAJAR FOTOGRAFI | Leave a comment

Amnesti Pajak : Menuju Titik Nol

Negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud sedang punya gawe yang sangat besar yaitu gerakan kembali pulang alias menarik dana kepemilikan warga negara indonesia yang berada di luar negeri, untuk dipulangkan kenegrinya melalui instrumen Tax Amnesty atau Amnesti Pajak.

Uang yang pulang ini tentu saja akan digunakan untuk membangun berbagai proyek infrastruktur padat modal yang sedang digalakkan pemerintah di berbagai tempat di negeri ini. Misalnya saja untuk membangun Jalan Tol dan Jalur Kereta Api di luar jawa.

Latar belakang adanya Tax  Amnesti ini antara lain adalah adanya kesenjangan infrastruktur yang masih tinggi antara wilayah yang satu dengan yang lainnya, penurunan laju pertumbuhan sektor industri, defisit anggaran, defisit neraca perdagangan dan perlambatan laju ekonomi. Kesemuanya menimbulkan dampak antara lain pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan sosial yang makin meningkat.

Continue reading

Posted in PAJAK | 4 Comments

Canda Tawa dan Matahari yang Pulang

_DSF0164
Canda Riang

Foto ini saya ambil waktu saya sepulang kantor di Jumat Sore yang muram. Muram bagi pria berkeluarga yang sedang jauh dari keluarganya. Sedangkan harus melewati libur wiken yang sendirian. Kepenatan akibat seharian penuh berkutat dengan angka-angka keriting, membuat saya ingin melarikan diri sejenak ke pantai.

Pantai Losari makin sore justru makin ramai dengan kehadiran pengunjung yang bertujuan untuk menikmati suasana pantai beserta dengan matahari yang beranjak pulang menuju peraduannya. Alunan indah ayat-ayat suci Al-Quran menjelang sholat Magrib terdengar dari pengeras suara Masjid Terapung di Pantai Losari.

Tawa riang dan senda gurau bersama teman sesekali ber-selfie ria, tanpa peduli akan hadirnya hari esok dan tentu saja tidak peduli dengan keberadaan saya yang mengawasi mereka dibalik sebuah jendela bidik.

Matahari telah pulang, gelap mulai menyelimuti.

Selamat Malam, Losari.

 

 

Posted in BELAJAR FOTOGRAFI | Leave a comment

Kisah Pencarian : Jodoh Harus Dijemput

Usia 35 Tahun merupakan usia dalam katagori lampu merah bagi seorang wanita dalam hal mencari jodoh. Belum menikah dalam usia ini, menjadikan kegelisahan yang amat sangat. Disaat yang sama banyak teman-temannya yang telah memiliki keluarga dengan anak usia sekolah.

Pertanyaan, pergunjingan merupakan hal sudah menjadi makanan sehari-hari. Berbagai upaya baik upaya sendiri maupun dibantu pihak lain misalnya keluarga maupun teman dalam mencarikan jodoh, berakhir dengan kesia-siaan apapun alasannya. Hanya menambah kegalaun di malam-malam sepi.

Seperti yang dirasakan sebut saja namanya  Mbak Mie, mau saya namai Bunga, nanti panjenengan pikirannya bermacam-macam. Mbak Mie, pemegang ijazah Sarjana, bekerja sebagai guru honorer di sekolah Madrasah Tsanawiyah, sebuah kecamatan di pelosok selatan Jawa Timur, yang bisa disebut dengan Kabupaten Tulungagung.

Memiliki kegelisahan tentang macetnya jalinan perjodohan, hingga tidak terasa usianya sudah memasuki angka ke tiga puluh lima, kegelisahan kecemasan dan perasaan kegagalan dalam memenuhi harapan orang tua untuk memberikan seorang cucu, semakin merambati lubuk sanubarinya.

Continue reading

Posted in NDONGENG | 3 Comments

Guru dan Isih Enak Jamanku To?

Sebuah link berita nemplok di timeline facebook saya,

https://m.tempo.co/read/news/2016/06/15/079780020/menteri-anies-yang-gak-mau-berubah-minggir-dari-barisan

yang isinya kurang lebih boleh saya kutip  sebagai berikut:  berisi  memo kemarahan Bapak Menteri Pendidikan kita, Anies Baswedan yang mendapati kenyataan bahwa ada seorang guru sudah jauh-jauh dari Magelang ke Jakarta untuk mengurus kenaikan pangkatnya, berujung kegagalan karena ketiadaan pejabat yang mengurusi bagian itu.

Jika panjenengan ingin membaca  memonya Pak Menteri Anies : http://indonesiana.tempo.co/read/78132/2016/06/14/info.indonesiana/memo-menteri-anies-kepada-anak-buahnya

Kenapa link berita tersebut sangat menyita perhatian saya, karena link berita tersebut langsung mengingatkan saya akan kisah perjuangan bapak dan ibuk saya hingga pensiun. Bapak dan ibuk saya sejak awal karir hingga pensiun adalah seorang guru pelosok desa di Kabupaten Tulungagung. Pengalaman paling panjang tentu saja dihabiskannya bersama era Orde Baru.

Continue reading

Posted in NDONGENG | Leave a comment