Kisah Seorang Pramuwisma

Ilustrasi
Ilustrasi

Vocal : The Mercy’s
Cipt : Charles hutagalung

Mengapa di dunia ini
Selalu menertawai
Hidupku yang hina ini
Berteman dengan seorang gadis

Mengapa semua manusia
Menghina kehidupannya
Mencari nafkah hidupnya
S’bagai seorang pramuria

Sepotong lirik lagu Grup Band The Mercys yang digawangi sang maestro musik Indonesia, Rinto Harahap lantang melantunkan suaranya dengan mantap, mengungkapan kegalauan hatinya akan kekasihnya seorang pramuwisma eh salah ya, yang benar pramuria ya. Jadi tulisan dibawah ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan alunan suara Bapak-bapak The Mercys, hanya alunan suara hati saya (halah).

Pramuwisma Jilid 1 (Rookie)

Di kalangan kaum urban perkotaan yang waktunya habis untuk bekerja, fenomena bergelut dengan pramuwisma atau bahasa kerennya pembantu rumah tangga terjadi begitu dinamis dan heroik. Berkali-kali saya mendapati keluhan dan curhatan mereka di media sosial. Jeritan nan membahana yang meneriakkan kejengkelan kekesalan terhadap perilaku janggal kaum yang mengaku marjinal. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekedar bernafas bebas merdeka. Disinilah uang, harta pendidikan kepangkatan yang katanya bisa membeli apa saja, ternyata harus bertekuk lutut di hadapan jenis manusia bernama pramuwisma.

Setelah beberapa tahun menjadi pejabat, pejabat Kepala Rumah Tangga maksudnya, saya hitung sudah dua kali bergelut dengan keganjilan dan keunikan tingkah polah mereka. Kebutuhan akan adanya pembantu rumah tangga mulai mendesak ketika jejaka kecil lahir dan mulai bisa bertingkah polah melihat dunia baru.

Seorang pembantu non profesional pun datang. Disebut non profesional, karena kata agennya, sebenarnya incarannya adalah tetangganya dia, tetapi ternyata dia ini memutuskan ikut terjun dalam kancah per-pembantuan, istilah kerennya pembantu pocokan yang tidak menetap, datang setiap hari ,setelah selesai pekerjaannya lalu pulang. Sehari dua hari, kerjaannya cukup bagus untuk ukuran seorang rookie. Minggu berikutnya mulailah terjadi gejala-gejala keganjilan.

Pertama kali ijin karena orang tuanya sakit, berikutnya anaknya yang sakit sampai suatu saat giginya sendiri yang sakit. Benar-benar alasan yang sangat bergigi. Sebagai manusia-manusia berbudi luhur (halah), tentu kami dengan ikhlas memberikan izin. Kalau saya sebagai buruh di instansi pengumpul pajak ini, absen sehari sama dengan potongan yang nilainya cukup besar. Cukup untuk cicilan BRI sebulan (halah). Beliau ini, gaji tetap menerima full.

Saya dan istri awal mula memaklumi karena toh dengan gaji segitu apa sih yang diharapkan. Masih mendapatkan permakluman. Tetapi ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa mendapatkan permakluman, bagaimana tidak. Ketidak hadirannya berbanding lurus dengan bertambahnya volume baju kotor, kalau baju luar masih bolehlah. Tapi bagaimana bila melihat stock daleman yang tinggal dua biji? Apa perlu menggunakan metode Side A dan Side B yang legendaris itu, macam kaset tape recorder jaman orde baru dulu.

Pernah suatu ketika untuk meluapkan kejengkelan, kami sepakat untuk mengerjai ketika sudah dua hari manusia ini tidak datang. Kami sepakat untuk menumpuk baju kotor sebanyak-banyaknya supaya pas hari penghakiman (hari dia masuk kerja), akan terkaget-kaget mendapati kenyataan bahwa kerjaannya benar-benar banyak.

Ternyata apa yang terjadi, Hari Penghakiman itu tidak terjadi malah kami harus menerima kenyataan bahwa stock baju kami sekeluarga makin menipis. Terutama yang paling penting stock daleman. Akhirnya dengan perasaan hancur lebur dan kalah, satu persatu kami harus bahu membahu mencuci bergunung-gunung baju kami sendiri. Benar-benar Hari penghakiman buat kami sendiri. Kenyataan yang luar biasa.

Pramuwisma Jilid 2 (Profesional)

Bertahun berlalu sesudah Hari Penghakiman itu dan akhirnya tibalah kami sekeluarga harus mendapati kenyataan bahwa kami memerlukan lagi jasa seorang pramuwisma alias pembantu pocokan. Kami kini berharap mendapatkan seorang pembantu yang benar-benar pro. Tibalah dari seorang agen abal-abal alias jasa dari seorang tetangga, seorang pembantu yang memiliki rekam jejak profesional, berdasarkan curiculum vitae yang dipaparkan mulut sang agen itu. Tetapi bagaimanapun kami masih terbayang dengan Hari Penghakiman itu sehingga kami masih ragu untuk menerimanya.

Kami sangat bersyukur ternyata pembantu yang ini benar-benar profesional. Pekerjaan rumah tangga apapun dikerjakan dengan cepat dan sempurna. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak perintah dan petunjuk apapun. Seorang pembantu biasa akan menyelesaikan pekerjaan lewat tengah hari, pembantu pro kami ini jam sembilan pagi sudah beranjak pulang dengan hasil pekerjaan yang sempurna. Trauma akan pembantu sebelumnya benar-benar telah menghilang. Meskipun kata tetangga kami, bayaranya cukup mahal untuk ukran pasar per-pembantuan dengan jenis pocokan. Hari penghakiman berangsur-angsur hilang dari benak keluarga kami.

Setahun berlalu, keluarga kami sedang berbahagia karena adik dari jejaka kecil yang kami tunggu-tunggu sejak lama oleh Allah SWT akhirnya mulai hadir, dengan tanda-tanda yang muncul atau dengan kata yang lebih ringkes, istri saya mulai hamil muda. Sebagai seorang yang sedang hamil muda, tentu harus mengurangi pekerjaan yang membuat capek-capek, harus banyak-banyak beristirahat. Untuk itu kami harus mengatur waktu mengantar jemput jejaka kecil dari sekolah. Mengirim barang ke JNE kadang harus saya lakukan dengan mengambil waktu istirahat kantor.

Hingga, sebuah sms masuk di HP istri saya, dari sang pembantu pro. Intinya adalah karena dia sudah bekerja selama setahun, dia minta naik gaji, bila tidak dipenuhi dia mengancam akan berhenti saja. Tuntutan yang membuat kami benar-benar terjepit. Disaat istri saya sedang mengalami prosesi kehamilan mudanya, dan tidak boleh mengalami kecapekan yang sangat, dia mengambil peluang yang membuat kami tidak bisa menolak. Tidak mungkin di saat seperti ini mencari seorang pembantu yang sepadan. Tidak ada pilihan lain, setelah melakukan pertimbangan lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka kami mengabulkan sepenuhnya.

Karena kami memilih jalan hidup yang nomaden, beberapa bulan kemudian kami harus pindah, perpindahan rumah bukan lagi sebuah hal yang luar biasa. Karena kebutuhan untuk memperoleh rumah yang agak besar, kami pindah kontrakan. Rumah yang agak besar dibanding rumah kontrakan kami sebelumnya. Kembali sebuah SMS keramat kembali hinggap di HP istri saya.

Tuntutan kenaikan gaji dilayangkan pembantu Pro kami. Kali ini yang dijadikan alasan adalah rumah yang lebih besar dan jarak rumah kami dari rumahnya yang memang lebih jauh. Disamping itu dengan alasan toh apabila bayi kami lahir nanti, karena oleh ibunya bayinya ini berencana untuk tidak dipakaikan diapers, tentu pekerjaannya akan lebih berat. Sehingga nantinya dia tidak akan meminta naik gaji lagi, kenaikannya sekalian saja sekarang.

Sungguh alasan yang sangat brilian dan kembali membuat kami terjepit. Hasil pekerjaannya memang perfect sehingga membuat kami benar-benar tidak memiliki pilihan. Sebuah nyinyiran keluar dari istri saya saat pembantu pro kami pulang dengan hasil yang (kembali) gilang gemilang.

“Auditor pajak, kok kalah sama orang yang nggak punya ijazah SD”

Benar, pembantu pro kami memang tidak lulus SD. Menanggapi nyinyirannya, saya hanya bisa tersenyum getir.

This entry was posted in NDONGENG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *